Monday, June 11

"In, Allah is by ur side :)"

Seperti biasa, sooca tadi pagi memicu saraf simpatik saya ~.~ Selalu begitu. Memang selalu begitu. Padahal ini sooca yang ke-7 selama hidup di FK. Tapi sensasinya selalu sama. Deg-degan. "Bukan sooca namanya kalo ngga deg-degan". Kalimat itu sepertinya jadi sangat familiar buat saya..

H- beberapa jam, sms pun berdatangan. Dari ibu, sudah pasti, sang penyemangat tiada henti :)
Dari teman2 yang sama2 lagi 'galau' sooca, kita juga saling mendo'akan dan menenangkan. Mungkin ini jadi salah satu istimewanya sooca ya. Jadi ajang berbagi semangat, motivasi, saling menebar do'a, alhasil makin terikat hati-hatinya. *tapi tetep aja sih ngga mau kalo harus sooca tiap hari, hehe, maunya saling menebar do'a nya aja yang tiap hari* Sampai pas waktu lagi di ojek pergi menuju kampus, hp bergetar, dan ada pesan masuk: "In, Allah is by ur side :)". Simple memang sms nya, tapi jadi moodbooster banget buat saya. Memang, sms2 sebelumnya juga bikin saya semangat mengahadapi takdir sooca hari ini, tapi entah kenapa sms simple yang satu ini ngena banget gitu..

Mungkin kadang suka lupa ya, ada saat ngerasa sendirian, ngga ada yang nemenin, ngga ada yang ngertiin, takut ini, takut itu, khawatir ini, khawatir itu....ah pokoknya dunia jadi terasa serba galau gitu lah. Padahal sebenernya ngga semestinya kayak gitu. Bukankah sudah dijanjikan dalam ayatnya: 
"Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan" (QS.57:4). 
Hanya ada kita dan Allah. Lebih dekat dari urat leher kita malah. Exactly, hanya ada kita dan Allah. Kalau udah kayak gitu, terus apalagi yang harus saya takutkan ya? Dia yang Maha Segalanya, Maha Kuasa menentukan kasus apa yang bakal saya dapet, Maha Kuasa melancarkan lisan saya untuk presentasi di depan dokter penguji, Maha Kuasa untuk melembutkan hati penguji saat memberi nilai buat saya ^^.
So,kalau kita yakin punya Allah di sisi kita, there's nothing to fear kan yaa..

Tapi ngga serta merta juga kita bisa pd Allah ada sama kita sih, kalau kita nya ngga berusaha mendekatkan diri sama Allah. Bukankah Dia akan mengingat kita jika kita ingat pada Nya?
"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu" (QS.2.152).
Itu bener-bener hukum sooca banget deh kayaknya. (Sebenernya ngga cuma sooca lah yaa.. pastinya di semua aspek kehidupan. Tapi yang lagi saya rasain sekarang ya itu, related to sooca *post sooca syndrome* :D). Belajar sampai otak ngebul juga sepertinya akan sia-sia ya kalau Allah nya ngga ridho. Atau berdo'a sampai mulut yang ngebul, tapi belajarnya gitu-gitu aja? Hmm..ngga juga deh. Semuanya perlu seimbang, sama-sama diperjuangkan sampai poin paling maksimal. Belajar sampai otak ngebul harus, bangun malam, minta pertolongan Allah supaya dilancarkan juga harus.
Mirip homeostasis, semuanya harus seimbang dan optimal.

Aah, memang, sooca tuh yaa.. selalu ada cerita, selalu punya sensasi yang 'berkesan' di tiap kalinya.
Yakinlah, bukan hanya di sooca, bukan hanya soal akademik saja, tapi dalam hal apapun, selama ikhtiar dan do'a kita maksimal, Allah selalu ada menyertai kita :)

Akhirnya sms dari teman saya yang akan sama2 sooca itu pun berbalas: "He is by our side, aamiin :)"

Thursday, January 26

Sacrifice..

"those things which are precious are saved only by sacrifice.."

Quote-nya pas banget sama kejadian kemaren. Belajar nyetir, nabrak pintu garasi, mecahin kaca spion, dan nangis.
Kata ibu, "yaudah gapapa, emang butuh pengorbanan kalau mau bisa...". Ah, ibu, kata-katanya selalu menenangkan.
Tapi tetep aja saya ngerasa bersalah sih. Banget. Dalam hati, mikirnya kalau sacrifice nya dari diri sendiri sih gapapa, emang harusnya kayak gitu. Tapi kalau jadinya bukan diri sendiri, malah orang tua yang harus berkorban?? Ngga banget sih sebenernya.
Aaaa..ibu, bapa, maaf ya ndi ceroboh :(

Sacrifice-nyai udah terjadi nih, berarti precious thing-nya mesti kecapai! ~.~' 9

Friday, December 16

"Reflection"

Look at me
You may think you see
Who I really am
But you'll never know me
Every day
It's as if I play a part
Now I see
If I wear a mask
I can fool the world
But I cannot fool my heart

Who is that girl I see
Staring straight back at me?
When will my reflection show
Who I am inside?

I am now
In a world where I
Have to hide my heart
And what I believe in
But somehow
I will show the world
What's inside my heart
And be loved for who I am

Who is that girl I see
Staring straight back at me?
Why is my reflection
Someone I don't know?
Must I pretend that I'm
Someone else for all time?
When will my reflection show
Who I am inside?

There's a heart that must be
Free to fly
That burns with a need to know
The reason why

Why must we all conceal
What we think, how we feel?
Must there be a secret me
I'm forced to hide?
I won't pretend that I'm
Someone else for all time
When will my reflection show
Who I am inside?
When will my reflection show
Who I am inside?


:')

Thursday, December 15

curhat..

Kata ustad Solikhin Abu Izzuddin, “Kita tak bisa mengubah peran, ubahlah cara menjalani. Hayati sebagai kebahagiaan. Kita tak bisa mengubah arah angin, maka ubahlah arah sayap kita..”
Kalau ibarat sekarang lagi sakit, kata-kata ini jadi analgesik buat saya. *Berlebihan. *Tapi ngga juga.

Yang dirasain sekarang itu sama persis sama satu tahun lalu, waktu diamanahin ‘sesuatu’. Ragu di awal, tapi mau gimana lagi. Coba mikir positifnya deh. Mungkin ini ujian remedial kali ya buat saya. Kalau yang kemarin dirasa belum maksimal menurut perasaan pribadi, sekarang Allah kasih kejadian yang mirip. Kalau boleh dibilang, ini ujian militansi amanah episode 2 buat saya. Dan tinggal di saya nya nih. Mau menjalani nya sama kaya tahun lalu, atau mau diubah jadi lebih baik lagi? Ini pertanyaan retoris sih. Ga perlu dijawab.

Nah, kalo gitu kenapa masih galau?

Jangan bikin suasana yang semestinya ngga bingung jadi bingung deh. Sama kayak tadi sore. Jangan bikin orang yang lagi bingung tambah bingung karena ego diri sendiri. Passion penting sih. Tapi ini darurat. Alasan saya -yang punya passion lebih di suatu bidang- itu rasanya terlalu ‘ngga penting’ dibandingin sama kebutuhan organisasi. Passion bisa dicari lah. Insya Allah..
Ini kesempatan kedua buat saya. Jangan mengulangi apa yang seharusnya ga keulang. Perbaiki. Ikhlaskan. Surgakan. Sekarang fokus aja sama CARA mengemas dan mendesain peran sebagai jalan menuju surga. Apapun perannya, surga obsesinya. Karena tempat istirahat kita harus disana, di jannah-Nya.. Insya Allah..

Wednesday, July 27

daricatatanku #1: Gagal vs Berhasil

Saya seneng banget nyimak acara atau kegiatan yang bisa nge-boost motivasi saya. Catatan ini saya tulis waktu ngedengerin acaranya Golden Ways di Metro TV. Tertulis di pojok catatannya, tanggal 27 Desember 2009. Apa yang saya tangkep dari acara itu bener-bener nyentil diri saya sendiri yang kadang suka takut ngadepin kegagalan dalam suatu hal, padahal belum saya coba. Nah, ternyata GAGAL dan BERHASIL itu kayak dua sisi mata uang. Menghindari kegagalan sama halnya kayak menghindari kemungkinan untuk berhasil. Jadi kalau mau berhasil berarti jangan perah takut gagal. Terus katanya, orang yang berhasil itu adalah orang yang lebih tertarik pada keberhasilan ketimbang yang menghindar dari kegagalan. Mereka yang hebat adalah mereka yang ngga pernah takut untuk mencoba LAGI setelah mengalami kegagalan..

Hmm..seringkali kegagalan itu datang bersamaan dengan penolakan terhadap kesempatan yang datang pada seseorang lho.. Kalau kata Justin Bieber mah "Never Say Never" kali ya? Ternyata emang harusnya kayak gitu. Jangan bilang "saya ngga bisa", tapi coba deh bilang "saya bakal coba". Tapi perlu diinget juga, dalam ngadepin kesempatan apapun di hidup ini, kita ngga boleh sampai ambisius berlebihan, sampai ngedepak temen-temen disebelahnya. Ambisius boleh, asal ngga merugikan orang lain, kalo bisa malah harus memberikan hal positif buat orang lain. 
Keinginan untuk berhasil juga bisa muncul karena terinspirasi dari mereka-mereka yang udah duluan sukses. Ya, mereka-mereka yang inspiring banget. Tapi, ngga mesti jadi orang lain juga sih. Kalau ada orang yang ingin kita tiru keberhasilannya, jangan tiru 'jadi'-nya, tapi tirulah 'proses' yang dijalaninya.. Ya, tetep jadi diri sendiri itu penting banget.
Nah, ada kalimat terakhir di acara itu yang saya suka: "Bekerjalah sesegera mungkin, tergesa-gesalah untuk berhasil. Target, cita-cita bukan untuk sekedar dicapai tapi untuk membuat kita SEGERA MULAI". Iya, bener banget. Kalau sukses nya baru sekedar niat, tanpa usaha buat bergerak, sampai kapan juga ngga akan nyampe. So, yuk mulai langkah sukses kita saat ini juga..!

Monday, March 14

Best Partner Ever After

Best Partner Ever After
*Semusnas UII Yogyakarta, 6 Maret 2011 - Ust. Salim A. Fillah*

Yang mereka cintai sesungguhnya adalah Allah, adalah kebenaran, adalah misi hidup mereka. Bukan orang atau benda atau bentuk apapun. Manusia hanya medan karya tempat cinta mengejawantah. Maka Allah memberi mereka kelezatan demi kelezatan setiap kali cinta itu mengejawantah.
“Percintaan” menurut Erich Fromm diartikan sebagai bentuk yang produktif dari hubungan dengan oranglain dan dengan diri sendiri. Baginya, cinta mencakup tanggungjawab, perhatian, rasa hormat dan pengetahuan serta hasrat agar sahabat kita tumbuh dan berkembang. Lain halnya dengan Abraham Maslow yang mendefinisikan cinta sebagai kegembiraan, keceriaan, kesenangan, perasan sejahtera dan nikmat..

Penjelasan kedua mahaguru Psikologi itu ternyata telah mengingatkan Ust. Salim pada dua orang wanita yang penuh cinta. Sementara Fromm mengingatkannya pada Khadijah, Maslow mengingatkannya kepada ‘Aisyah. Bukan berarti cinta Rosulullah dan Khadijah tidak mengandung unsure gembira, ceria atau pleasure feelings lainnya, tetapi unsure tanggungjawab, perhatian, rasa hormat dan pengetahuan. Rosulullah yang lahir sebagai yatim dan kehilangan ibunda di masa kanak-kanak agaknya menemukan sebuah cinta yang sangat mengokohkannya pada Khadijah. Seorang wanita dengan selisih usia beberapa tahun diatas beliau, tentu bagaikan ibu yang penuh kasih ketika kekanakan seorang lelaki sesekali hadir  memeberi warna. Seorang janda yang begitu teguh hati, penuh pengalaman hidup, dan matang tentu membuat Muhammad merasa memiliki kawan seiring dalam meraih kedewasaan dan kemuliaan pekerti. Khadijah seolah hadir menjadi bagian skenario Allah dalam mempersiapkan kenabiannya.

Ketika Khadijah meneyelesaikan tugasnya dengan sempurna, Allah memanggilnya ke sisiNya. Fase da’wah Muhammad berikutnya diisi tugas-tugas berat mengorganisasi negara da’wah yang mulai berakar dan bertumbuh. Maka Allah mengaruniakan padanya pendamping lain yang menghadirkan keceriaan dan kegembiraan. ‘Aisyah namanya. Kemanjaannya, kecemburuannya yang membakar, kelincahannya, dan kecerdasannya menjadi warna yang indah dalam kehidupan beliau kini yang diisi tugas-tugas maha-serius mengelola umat. Dulu Khadijah menghibur beliau ketika jiwanya lelah oleh tekanan, celaan, dan penganiayaan di Mekah. Kini ‘Aisyah menceriakan dan menggairahkan ketika beliau ditimbuni tugas-tugas; pertempuran, pengajaran, ekonomi, kemasyarakatan dan pemerintahan.

Muhammad, Khadijah, ‘Aisyah. Di jalan cinta pejuang, mereka adalah sekumpulan riak yang menyatu membentuk gelombang. Lalu –kata Anis Matta dalam Serial Cinta-nya- Misi kenabian datang bagai angin yang meniup gelombang itu. Maka jadilah mereka badai kebajikan dalam sejarah kemanusiaan.

Bila ditinjau lebih jauh, ternyata rumus keberpasangan dua orang insan itu tidaklah selalu sama. Ada yang memiliki rumus ‘kesamaan’ layaknya dua sungai yang menyatu sehingga menghasilkan arus yang lebih besar. Ada yang memiliki rumus ‘perpaduan’, bagaikan air laut yang berpadu dengan angin membentuk badai yang dahsyat. Ada pula yang berumus ‘keseimbangan’, seperti arus panas yang bertemu dengan arus dingin hingga menjadi hangat. Berbeda seratus delapan puluh derajat, namun ketika bertemu, akan saling melengkapi dan mengimbangi. Ya, masing-masing rumus keberpasangan dapat menghasilkan kebaikan. Dalam keadaan apapun keberpasangan kita, kita bisa mendapatkan potensi kebaikan yang tinggi. Mungkin tidak akan sesempurna keberpasangan Rosulullah bersama Khadijah juga ‘Aisyah karena diri kita pun  tidak sesempurna mereka. Dan tidak ada yang ideal, karena diri kita pun tak ideal. Yang ada hanyalah pasangan yang TEPAT bagi kita, yang mampu menjadi partner terbaik kita sepanjang hayat, the best partner ever after.. =)
Wallahu’alam..

Friday, December 31

Pemimpi jadi Pembelajar

Pergantian tahun mengingatkan saya pada sebuah resolusi dan evaluasi. Rencana yang akan saya lakukan di satu tahun ke depan. Dan apa yang telah saya lakukan setahun ke belakang. Menjelang malam pergantian tahun 2011 masehi ini, saya nge-review semua yang sudah saya lewati setahun ke belakang. Menelaah kembali Resolusi Sang Pemimpi 2010 yang pernah saya buat tahun lalu. Dan ternyata, memang benar-benar resolusi seorang pemimpi ^^. Entah resolusinya yang sangat idealis, atau memang kapasitas saya-nya yang ngga memadai dan kurang ditingkatkan, tapi yang jelas banyak yang belum kecapai. Sedih memang. Jadi bertanya-tanya sama diri sendiri, 'kemana aja ndi selama setahun ini??'
Mungkin jadi pembelajaran juga buat saya, resolusi bukan sekedar dibuat dan dipajang di meja belajar. Tapi dalam menyusunnya pun harus benar-benar dipikirkan, disesuaikan dengan peningkatan kapasitas diri yang memungkinkan.  Idealis tapi tetap realistis tepatnya. Resolusi yang idealis-realistis, yang dibarengi dengan peningkatan kapasitas diri yang maksimal. Itu yang kemarin saya lewatkan.
 Ada benarnya mungkin kemarin saya kasih judul 'Resolusi Sang Pemimpi 2010' ^^. Berarti tahun ini harus ganti judul.. Resolusi Sang Pembelajar 2011! Ya, karena saya masih - dan akan terus- butuh lebih banyak belajar. Tahun ini, ingin menyempurnakan titipan amanah yang saya rasa keteteran di tahun kemarin. Tahun ini juga  diberi amanah yang cukup besar di Asy-Syifaa', Tentunya semuanya harus jadi sarana belajar dan perbaikan diri buat saya.
Semoga..