Best Partner Ever After
*Semusnas UII Yogyakarta, 6 Maret 2011 - Ust. Salim A. Fillah*
Yang mereka cintai sesungguhnya adalah Allah, adalah kebenaran, adalah misi hidup mereka. Bukan orang atau benda atau bentuk apapun. Manusia hanya medan karya tempat cinta mengejawantah. Maka Allah memberi mereka kelezatan demi kelezatan setiap kali cinta itu mengejawantah.
“Percintaan” menurut Erich Fromm diartikan sebagai bentuk yang produktif dari hubungan dengan oranglain dan dengan diri sendiri. Baginya, cinta mencakup tanggungjawab, perhatian, rasa hormat dan pengetahuan serta hasrat agar sahabat kita tumbuh dan berkembang. Lain halnya dengan Abraham Maslow yang mendefinisikan cinta sebagai kegembiraan, keceriaan, kesenangan, perasan sejahtera dan nikmat..
Penjelasan kedua mahaguru Psikologi itu ternyata telah mengingatkan Ust. Salim pada dua orang wanita yang penuh cinta. Sementara Fromm mengingatkannya pada Khadijah, Maslow mengingatkannya kepada ‘Aisyah. Bukan berarti cinta Rosulullah dan Khadijah tidak mengandung unsure gembira, ceria atau pleasure feelings lainnya, tetapi unsure tanggungjawab, perhatian, rasa hormat dan pengetahuan. Rosulullah yang lahir sebagai yatim dan kehilangan ibunda di masa kanak-kanak agaknya menemukan sebuah cinta yang sangat mengokohkannya pada Khadijah. Seorang wanita dengan selisih usia beberapa tahun diatas beliau, tentu bagaikan ibu yang penuh kasih ketika kekanakan seorang lelaki sesekali hadir memeberi warna. Seorang janda yang begitu teguh hati, penuh pengalaman hidup, dan matang tentu membuat Muhammad merasa memiliki kawan seiring dalam meraih kedewasaan dan kemuliaan pekerti. Khadijah seolah hadir menjadi bagian skenario Allah dalam mempersiapkan kenabiannya.
Ketika Khadijah meneyelesaikan tugasnya dengan sempurna, Allah memanggilnya ke sisiNya. Fase da’wah Muhammad berikutnya diisi tugas-tugas berat mengorganisasi negara da’wah yang mulai berakar dan bertumbuh. Maka Allah mengaruniakan padanya pendamping lain yang menghadirkan keceriaan dan kegembiraan. ‘Aisyah namanya. Kemanjaannya, kecemburuannya yang membakar, kelincahannya, dan kecerdasannya menjadi warna yang indah dalam kehidupan beliau kini yang diisi tugas-tugas maha-serius mengelola umat. Dulu Khadijah menghibur beliau ketika jiwanya lelah oleh tekanan, celaan, dan penganiayaan di Mekah. Kini ‘Aisyah menceriakan dan menggairahkan ketika beliau ditimbuni tugas-tugas; pertempuran, pengajaran, ekonomi, kemasyarakatan dan pemerintahan.
Muhammad, Khadijah, ‘Aisyah. Di jalan cinta pejuang, mereka adalah sekumpulan riak yang menyatu membentuk gelombang. Lalu –kata Anis Matta dalam Serial Cinta-nya- Misi kenabian datang bagai angin yang meniup gelombang itu. Maka jadilah mereka badai kebajikan dalam sejarah kemanusiaan.
Bila ditinjau lebih jauh, ternyata rumus keberpasangan dua orang insan itu tidaklah selalu sama. Ada yang memiliki rumus ‘kesamaan’ layaknya dua sungai yang menyatu sehingga menghasilkan arus yang lebih besar. Ada yang memiliki rumus ‘perpaduan’, bagaikan air laut yang berpadu dengan angin membentuk badai yang dahsyat. Ada pula yang berumus ‘keseimbangan’, seperti arus panas yang bertemu dengan arus dingin hingga menjadi hangat. Berbeda seratus delapan puluh derajat, namun ketika bertemu, akan saling melengkapi dan mengimbangi. Ya, masing-masing rumus keberpasangan dapat menghasilkan kebaikan. Dalam keadaan apapun keberpasangan kita, kita bisa mendapatkan potensi kebaikan yang tinggi. Mungkin tidak akan sesempurna keberpasangan Rosulullah bersama Khadijah juga ‘Aisyah karena diri kita pun tidak sesempurna mereka. Dan tidak ada yang ideal, karena diri kita pun tak ideal. Yang ada hanyalah pasangan yang TEPAT bagi kita, yang mampu menjadi partner terbaik kita sepanjang hayat, the best partner ever after.. =)
Wallahu’alam..
No comments:
Post a Comment