Wednesday, November 10

Aku Salah Bila Tak Bersyukur..

9 November 2010..

Ku tahu kau berharap dalam do'amu,
Ku tahu kau berjaga dalam langkahku,
Ku tahu slalu  cinta dalam senyum mu…

Kutipan lagu ini menggambarkan dua sosok hebat dalam hidup seorang anak, yaitu orangtua. Hari ini, untuk kesekian kalinya Allah menunjukkan betapa besarnya kasih sayang mereka padaku.
Setiap kali pulang ke rumah, semangat seakan terisi penuh kembali. Bertemu orangtua, bahkan hanya menatap wajahnya yang teduh saja sudah memberikanku motivasi yang lebih untuk melakukan yang terbaik bagi mereka. Berada dekat mereka seolah teringatkan kembali akan harapan-harapan mereka padaku.

Namun terkadang pulang ke rumah itu membuatku merasa sangat merepotkan mereka. Apalagi kalau sampai mereka mengantarku kembali ke Jatinangor. Tapi tak sedikitpun rasa keberatan terlihat di raut wajah mereka. Ibu tercinta, sejak sore sudah sibuk menyiapkan segala keperluan yang akan beliau bawakan untukku. Begitu khawatirnya ibu padaku. Dalam hati hanya bisa berbisik, 'aku janji aku akan baik-baik saja, bu..tak usah khawatir..' Bapa pun begitu. Belum sempat beliau beristirahat selepas pulang dari kantor, beliau segera menyiapkan mobil untuk mengantarkanku kembali ke kosan. Rasa lelah seharian di kantor seolah tak dirasanya sama sekali. Dalam hati aku berkata, 'besok-besok aku akan kembali ke kosan sebelum bapa pulang ke rumah, biar ga usah ngerepotin gini..'

Aku sangat beruntung memiliki kedua orangtua yang luar biasa seperti ibu dan bapa. Pengorbanan mereka benar-benar tak terkira. Kalimat harapan yang selalu terngiang dari mereka, "duh Gusti, mudah-mudahan sing kaumuran ku ibu sareng bapa, ningal ndi janten dokter nu sholehah…" Kalimat khas ibu dan bapa dalam bahasa daerah kami, yang bagiku, itu adalah pembangkit semangat yang luar biasa. Begitu besarnya harapan mereka padaku. Ingin aku menjadi dokter yang sukses dunia akhirat. Dengan segala kemampuan yang mereka miliki, mereka hanya menginginkan aku bahagia. 

Lalu dimanakah rasa syukurku kalau sampai saat ini aku masih belum maksimal dalam mengerjakan sesuatu? Dimanakah rasa baktiku kepada mereka kalau sampai saat ini aku masih menjadi diriku yang 'biasa'? Aku benar-benar malu. Mungkin perjuanganku disini belum berimbang dengan perjuangan mereka disana. Maka dari itu aku harus selalu berusaha mengimbanginya, walau memang tak mungkin terimbangi sampai kapanpun. Minimal jadi anak yang baik, nurut, tidak membuat mereka kecewa. Selalu mendo'akan dan meningkatkan totalitasku dalam menjalankan amanahku sebagai putri mereka. Semua harus kulakukan sebagai wujud rasa syukurku pada Allah, pada ibu dan bapa.
Atas doa, kasih sayang dan pengorbanan mereka yang tiada hentinya, aku salah bila tak bersyukur..

What You Say is What You Do ?

19 Agustus 2010..

Hari ini mentoring kedua. Tidak kalah serunya dengan yang perdana kemarin, terutama bagi sang mentor (aku). Tak pernah terbayangkan akan punya adik-adik  mentor yang begitu antusias dan perhatian. Walau aku tahu, mereka sangat lelah dengan serangkaian acara OPPEK di siang harinya. Mereka bersemangat, berarti aku harus lebih semangat dari mereka. Ahh..tapi sayang, persiapan dariku hari ini tak semaksimal kemarin. TOR yang didapat hari ini juga, baru aku baca beberapa saat sebelum mentoring dimulai. Aktivitas siang hariku tadi cukup menyita energi yang akhirnya membuat aku kelelahan sehingga kewajiban sebagai mentor pun sedikit terabaikan. Astagfirullah... 
Yah..jadinya lebih ke-sharing, tapi masih di dalam koridor tema saat itu. Alhamdulillah mereka tetap setia mendengarkanku. Lalu apa yang aku katakan tadi di hadapan mereka?? Kalau kupikir lagi sekarang, semuanya memang terkesan idealis. Terkadang aku malu sendiri, apa aku benar-benar sudah melakukan semua itu? Idealnya, apa yang dikatakan itu adalah apa yang juga dilakukan oleh kita. Jika kita sudah mampu menasihati orang lain, seharusnya diri sendiri pun sudah lebih paham dan sudah mampu mengamalkannya dengan baik. Lalu bagaimana dengan aku? Sepertinya aku tak jauh berbeda dengan mereka, hanya saja aku tahu lebih dulu dari mereka, maka jadi kewajibanku untuk menyampaikan kepada mereka. 
Hmm…begini ya rasanya jadi mentor.. Ternyata ada tanggungjawab tersendiri, khususnya pada diri sendiri. Mungkin seharusnya tahu lebih dulu itu berarti mengerjakan dan mengamalkannya lebih dulu juga. Tapi bagaimanapun, pembelajaran memang membutuhkan proses.
Ya Allah….ampuni hamba. Semoga amanah menjadi pementor ini bisa menjadi jalan bagi hamba untuk selalu memperbaiki diri.. Aamiin..
 

Tuesday, November 9

Ngementor Perdana!!

15 Agustus 2010...
Dibina sambil membina. Itu yang aku alami saat ini. Hari ini pertama kalinya aku ngementor adik-adik 2010. Awalnya agak ragu. Ngerasa belum siap buat jadi mentor. Takut ga bisa menghadapi adik-adik yang ngga antusias, terlalu diem, atau mungkin hiperaktif.. -.-'
Tapi alhamdulillah, untuk kelas amatiran, pemula sepertiku semuanya terbilang lancar.
"Syukur" adalah materi perdana yang disampaikan tadi. Sejatinya akulah yang harus belajar lebih tentang syukur. Terutama hari ini. Hari dimana aku masih diberikan kesempatan memegang amanah pertamaku sebagai mentor. Bagiku, ini berarti aku masih diberi kesempatan untuk terus belajar dan memperbaiki diri..
Ya Allah, semoga bisa jadi mentor yang baik dan amanah..aamiin..

Saturday, November 6

Be Safe, Be Beautiful..

Akhwat, tahukah engkau? Wanita itu sangatlah mulia bak intan berlian. Apabila diatur dengan baik maka akan terlihat indah. Namun bila tidak diatur dengan baik maka akan kelihatan jelek. Dalam hal ini, Islam telah mengajarkan bagaimana seharusnya seorang muslimah itu berpenampilan. Seperti yang difirmankan-Nya di Q.S Al-Ahzab : 59:

“ Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”.

Jilbab yang dimaksud disini adalah baju yang lapang, yang dapat menutupi kepala dan dada.

Lalu kenapa sih kita harus pakai jilbab?

Pertama, karena jilbab merupakan tanda ketaatan seorang muslimah kepada Allah dan Rosul-Nya. Dalam kitab-Nya, Allah telah memerintahkan para wanita untuk menggunakan jilbab:

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.” (QS. An Nuur: 31)

Kedua, karena jilbab itu iffah (menjaga diri)
Allah menjadikan kewajiban menggunakan jilbab sebagai bentuk penjagaan diri kita dari maksiat. Allah menyuruh kita menutupi tubuh kita untuk menghindarkan dan menahan diri kita dari perbuatan dosa. Ketika seorang muslimah memakai jilbabnya dengan benar, maka mereka tidak akan diganggu oleh orang-orang jahil lagi berpenyakit hati.

Ketiga, karena jilbab itu kesucian.
Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:
“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), Maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al Ahzab: 53).
Allah SWT menjadikan jilbab sebagai kesucian bagi hati orang-orang mukmin baik laki-laki maupun perempuan. Nafsu timbul jika mata melihat. Keindahan tubuh wanita dapat menjadi fitnah (godaan) bagi para lelaki. Maka dari itu, jilbab hadir sebagai pelindung yang dapat mengancurkan keinginan orang-orang yang memiliki penyakit hati.

Keempat, jilbab adalah ketaqwaan.
Allah berfirman:
”Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. dan pakaian takwa Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raf: 26).

Kelima, jilbab menunjukkan keimanan.
Allah SWT tidaklah berfirman tentang jilbab kecuali bagi wanita-wanita yang beriman. Dalam ayat-ayat Nya Allah menyeru kepada wanita beriman untuk memakai jilbab yang menutupi tubuhnya. Ketika seorang wanita yang benar imannya mendengar ayat ini maka tentu ia akan melaksanakan perintah Tuhannya dengan senang hati. Lalu bagaimanakah iman seorang wanita yang mengetahui perintah Tuhannya namun tidak melaksanakannya, atau bahkan melanggarnya?

Keenam, jilbab adalah rasa malu.
Rosulullah SAW bersabda:

“Jika kalian tidak malu maka lakukanlah perbuatan sesuka kalian.” (HR. Bukhari)

Wanita yang membuka auratnya tidak disangsikan lagi bahwa tidak ada rasa malu darinya, ia menampilkan perhiasan yang tidak selayaknya dibuka, ia memamerkan barang berharganya yang hanya layak untuk ia berikan kepada suaminya, ia telah membuka sesuatu yang Allah perintahkan untuk menutupnya.
Akhwat, segala yang diperintahkan Allah kepada kita semua adalah demi keuntungan diri kita sendiri. Kalau kita tau manfaat setiap perintah, kita akan semakin sadar betapa sayangnya Allah kepada kita. Termasuk berjilbab.

So, what are you waiting for? Be safe, be beautiful with jilbab…. !
Wallahu ‘alam bishshawab… 