Friday, December 16

"Reflection"

Look at me
You may think you see
Who I really am
But you'll never know me
Every day
It's as if I play a part
Now I see
If I wear a mask
I can fool the world
But I cannot fool my heart

Who is that girl I see
Staring straight back at me?
When will my reflection show
Who I am inside?

I am now
In a world where I
Have to hide my heart
And what I believe in
But somehow
I will show the world
What's inside my heart
And be loved for who I am

Who is that girl I see
Staring straight back at me?
Why is my reflection
Someone I don't know?
Must I pretend that I'm
Someone else for all time?
When will my reflection show
Who I am inside?

There's a heart that must be
Free to fly
That burns with a need to know
The reason why

Why must we all conceal
What we think, how we feel?
Must there be a secret me
I'm forced to hide?
I won't pretend that I'm
Someone else for all time
When will my reflection show
Who I am inside?
When will my reflection show
Who I am inside?


:')

Thursday, December 15

curhat..

Kata ustad Solikhin Abu Izzuddin, “Kita tak bisa mengubah peran, ubahlah cara menjalani. Hayati sebagai kebahagiaan. Kita tak bisa mengubah arah angin, maka ubahlah arah sayap kita..”
Kalau ibarat sekarang lagi sakit, kata-kata ini jadi analgesik buat saya. *Berlebihan. *Tapi ngga juga.

Yang dirasain sekarang itu sama persis sama satu tahun lalu, waktu diamanahin ‘sesuatu’. Ragu di awal, tapi mau gimana lagi. Coba mikir positifnya deh. Mungkin ini ujian remedial kali ya buat saya. Kalau yang kemarin dirasa belum maksimal menurut perasaan pribadi, sekarang Allah kasih kejadian yang mirip. Kalau boleh dibilang, ini ujian militansi amanah episode 2 buat saya. Dan tinggal di saya nya nih. Mau menjalani nya sama kaya tahun lalu, atau mau diubah jadi lebih baik lagi? Ini pertanyaan retoris sih. Ga perlu dijawab.

Nah, kalo gitu kenapa masih galau?

Jangan bikin suasana yang semestinya ngga bingung jadi bingung deh. Sama kayak tadi sore. Jangan bikin orang yang lagi bingung tambah bingung karena ego diri sendiri. Passion penting sih. Tapi ini darurat. Alasan saya -yang punya passion lebih di suatu bidang- itu rasanya terlalu ‘ngga penting’ dibandingin sama kebutuhan organisasi. Passion bisa dicari lah. Insya Allah..
Ini kesempatan kedua buat saya. Jangan mengulangi apa yang seharusnya ga keulang. Perbaiki. Ikhlaskan. Surgakan. Sekarang fokus aja sama CARA mengemas dan mendesain peran sebagai jalan menuju surga. Apapun perannya, surga obsesinya. Karena tempat istirahat kita harus disana, di jannah-Nya.. Insya Allah..