Kata ustad Solikhin Abu Izzuddin, “Kita tak bisa mengubah peran, ubahlah cara menjalani. Hayati sebagai kebahagiaan. Kita tak bisa mengubah arah angin, maka ubahlah arah sayap kita..”
Kalau ibarat sekarang lagi sakit, kata-kata ini jadi analgesik buat saya. *Berlebihan. *Tapi ngga juga.
Yang dirasain sekarang itu sama persis sama satu tahun lalu, waktu diamanahin ‘sesuatu’. Ragu di awal, tapi mau gimana lagi. Coba mikir positifnya deh. Mungkin ini ujian remedial kali ya buat saya. Kalau yang kemarin dirasa belum maksimal menurut perasaan pribadi, sekarang Allah kasih kejadian yang mirip. Kalau boleh dibilang, ini ujian militansi amanah episode 2 buat saya. Dan tinggal di saya nya nih. Mau menjalani nya sama kaya tahun lalu, atau mau diubah jadi lebih baik lagi? Ini pertanyaan retoris sih. Ga perlu dijawab.
Nah, kalo gitu kenapa masih galau?
Jangan bikin suasana yang semestinya ngga bingung jadi bingung deh. Sama kayak tadi sore. Jangan bikin orang yang lagi bingung tambah bingung karena ego diri sendiri. Passion penting sih. Tapi ini darurat. Alasan saya -yang punya passion lebih di suatu bidang- itu rasanya terlalu ‘ngga penting’ dibandingin sama kebutuhan organisasi. Passion bisa dicari lah. Insya Allah..
Ini kesempatan kedua buat saya. Jangan mengulangi apa yang seharusnya ga keulang. Perbaiki. Ikhlaskan. Surgakan. Sekarang fokus aja sama CARA mengemas dan mendesain peran sebagai jalan menuju surga. Apapun perannya, surga obsesinya. Karena tempat istirahat kita harus disana, di jannah-Nya.. Insya Allah..
No comments:
Post a Comment