Friday, December 31

Pemimpi jadi Pembelajar

Pergantian tahun mengingatkan saya pada sebuah resolusi dan evaluasi. Rencana yang akan saya lakukan di satu tahun ke depan. Dan apa yang telah saya lakukan setahun ke belakang. Menjelang malam pergantian tahun 2011 masehi ini, saya nge-review semua yang sudah saya lewati setahun ke belakang. Menelaah kembali Resolusi Sang Pemimpi 2010 yang pernah saya buat tahun lalu. Dan ternyata, memang benar-benar resolusi seorang pemimpi ^^. Entah resolusinya yang sangat idealis, atau memang kapasitas saya-nya yang ngga memadai dan kurang ditingkatkan, tapi yang jelas banyak yang belum kecapai. Sedih memang. Jadi bertanya-tanya sama diri sendiri, 'kemana aja ndi selama setahun ini??'
Mungkin jadi pembelajaran juga buat saya, resolusi bukan sekedar dibuat dan dipajang di meja belajar. Tapi dalam menyusunnya pun harus benar-benar dipikirkan, disesuaikan dengan peningkatan kapasitas diri yang memungkinkan.  Idealis tapi tetap realistis tepatnya. Resolusi yang idealis-realistis, yang dibarengi dengan peningkatan kapasitas diri yang maksimal. Itu yang kemarin saya lewatkan.
 Ada benarnya mungkin kemarin saya kasih judul 'Resolusi Sang Pemimpi 2010' ^^. Berarti tahun ini harus ganti judul.. Resolusi Sang Pembelajar 2011! Ya, karena saya masih - dan akan terus- butuh lebih banyak belajar. Tahun ini, ingin menyempurnakan titipan amanah yang saya rasa keteteran di tahun kemarin. Tahun ini juga  diberi amanah yang cukup besar di Asy-Syifaa', Tentunya semuanya harus jadi sarana belajar dan perbaikan diri buat saya.
Semoga..

Thursday, December 9

Lagi-Lagi Melankolis.. -.-'

Rasanya udah lama banget ga publish tulisan di blog *bukan rasanya sih, tapi emang ^^* Kayaknya notes hp udah kepenuhan nampungin tulisan-tulisanku yang ide tulisannya suka muncul tiba-tiba dan kayaknya bakal keburu ilang inspirasinya kalu harus buka laptop dulu. Nulis di hp, ujung-ujungnya suka lupa *males juga sih sebenernya* buat mindahin ke blog. Tapi kalau habis blogwalking kayak gini nih.. Suka ada motivasi besar buat nulis langsung di blog sendiri *walau LI belum selesai..hehe*. Barusan baca blog-blog kakak tingkat yang keren-keren bangeeeut. Tulisannya inspiratif banget deh.. Tulisannya juga punya karakter tersendiri, sesuai sama yang nulis. Tulisan itu mencerminkan kepribadian orang yang nulisnya ya? Hmm.. kalau dibandingkan dengan tulisan-tulisanku, emang beda banget kayaknya. Baru nyadar deh kalo tulisan di blog ini ko' bernada melankolis semua ya? Apa itu berarti aku........ +.+

Sebenernya bukan ini sih yang pengen ditulis sekarang. Sekarang tuh aku rasanya kangen banget sama suasana rumah *dasar homesicker, baru 4 hari yang lalu pulang ke rumah*, terutama kebersamaan sama aa, teteh dan upi. Kebersamaan yang ternyata kini harganya mahal. Dulu, rasanya gampang banget buat ciptain kebersamaan itu. Saking terlalu gampangnya, sampai-sampai banyak waktu yang dipakai untuk 'berantem', rebutan suatu hal, dan hal-hal mengesalkan lainnya di masa kecil kami. Tapi sekarang, waktu yang ada terlalu berharga buat dihabiskan dengan hal-hal yang ngga berguna itu. Untuk ketemu dan berkumpul full team aja butuh penantian yang ngga sebentar. Jelas aja, waktu pertemuan yang hanya sehari atau dua hari itu ngga seimbang dengan waktu menunggu yang hampir berpuluh kali lipatnya. Tapi mau gimana lagi, toh kondisi sekarang udah berubah. Udah muncul kewajiban-kewajiban baru yang butuh pengorbanan dari masing-masing kami. Mungkin disini ada pelajaran tentang bagaimana mendewasakan diri, menerima perubahan-perubahan, menghargai waktu, mengoptimalkan kualitas dari kuantitas. Walau bagaimanapun, sejauh apapun, sejarang apapun pertemuan itu, tetap ada ikatan darah antara kami yang tidak akan bisa dipisahkan oleh apapun juga. Semoga Allah selalu melindungi kami, menyatukan hati kami sebagai saudara-saudara yang rukun selamanya..aamiin...
*Tuh kan.. lagi-lagi...melankolis.. -.-'

Wednesday, November 10

Aku Salah Bila Tak Bersyukur..

9 November 2010..

Ku tahu kau berharap dalam do'amu,
Ku tahu kau berjaga dalam langkahku,
Ku tahu slalu  cinta dalam senyum mu…

Kutipan lagu ini menggambarkan dua sosok hebat dalam hidup seorang anak, yaitu orangtua. Hari ini, untuk kesekian kalinya Allah menunjukkan betapa besarnya kasih sayang mereka padaku.
Setiap kali pulang ke rumah, semangat seakan terisi penuh kembali. Bertemu orangtua, bahkan hanya menatap wajahnya yang teduh saja sudah memberikanku motivasi yang lebih untuk melakukan yang terbaik bagi mereka. Berada dekat mereka seolah teringatkan kembali akan harapan-harapan mereka padaku.

Namun terkadang pulang ke rumah itu membuatku merasa sangat merepotkan mereka. Apalagi kalau sampai mereka mengantarku kembali ke Jatinangor. Tapi tak sedikitpun rasa keberatan terlihat di raut wajah mereka. Ibu tercinta, sejak sore sudah sibuk menyiapkan segala keperluan yang akan beliau bawakan untukku. Begitu khawatirnya ibu padaku. Dalam hati hanya bisa berbisik, 'aku janji aku akan baik-baik saja, bu..tak usah khawatir..' Bapa pun begitu. Belum sempat beliau beristirahat selepas pulang dari kantor, beliau segera menyiapkan mobil untuk mengantarkanku kembali ke kosan. Rasa lelah seharian di kantor seolah tak dirasanya sama sekali. Dalam hati aku berkata, 'besok-besok aku akan kembali ke kosan sebelum bapa pulang ke rumah, biar ga usah ngerepotin gini..'

Aku sangat beruntung memiliki kedua orangtua yang luar biasa seperti ibu dan bapa. Pengorbanan mereka benar-benar tak terkira. Kalimat harapan yang selalu terngiang dari mereka, "duh Gusti, mudah-mudahan sing kaumuran ku ibu sareng bapa, ningal ndi janten dokter nu sholehah…" Kalimat khas ibu dan bapa dalam bahasa daerah kami, yang bagiku, itu adalah pembangkit semangat yang luar biasa. Begitu besarnya harapan mereka padaku. Ingin aku menjadi dokter yang sukses dunia akhirat. Dengan segala kemampuan yang mereka miliki, mereka hanya menginginkan aku bahagia. 

Lalu dimanakah rasa syukurku kalau sampai saat ini aku masih belum maksimal dalam mengerjakan sesuatu? Dimanakah rasa baktiku kepada mereka kalau sampai saat ini aku masih menjadi diriku yang 'biasa'? Aku benar-benar malu. Mungkin perjuanganku disini belum berimbang dengan perjuangan mereka disana. Maka dari itu aku harus selalu berusaha mengimbanginya, walau memang tak mungkin terimbangi sampai kapanpun. Minimal jadi anak yang baik, nurut, tidak membuat mereka kecewa. Selalu mendo'akan dan meningkatkan totalitasku dalam menjalankan amanahku sebagai putri mereka. Semua harus kulakukan sebagai wujud rasa syukurku pada Allah, pada ibu dan bapa.
Atas doa, kasih sayang dan pengorbanan mereka yang tiada hentinya, aku salah bila tak bersyukur..

What You Say is What You Do ?

19 Agustus 2010..

Hari ini mentoring kedua. Tidak kalah serunya dengan yang perdana kemarin, terutama bagi sang mentor (aku). Tak pernah terbayangkan akan punya adik-adik  mentor yang begitu antusias dan perhatian. Walau aku tahu, mereka sangat lelah dengan serangkaian acara OPPEK di siang harinya. Mereka bersemangat, berarti aku harus lebih semangat dari mereka. Ahh..tapi sayang, persiapan dariku hari ini tak semaksimal kemarin. TOR yang didapat hari ini juga, baru aku baca beberapa saat sebelum mentoring dimulai. Aktivitas siang hariku tadi cukup menyita energi yang akhirnya membuat aku kelelahan sehingga kewajiban sebagai mentor pun sedikit terabaikan. Astagfirullah... 
Yah..jadinya lebih ke-sharing, tapi masih di dalam koridor tema saat itu. Alhamdulillah mereka tetap setia mendengarkanku. Lalu apa yang aku katakan tadi di hadapan mereka?? Kalau kupikir lagi sekarang, semuanya memang terkesan idealis. Terkadang aku malu sendiri, apa aku benar-benar sudah melakukan semua itu? Idealnya, apa yang dikatakan itu adalah apa yang juga dilakukan oleh kita. Jika kita sudah mampu menasihati orang lain, seharusnya diri sendiri pun sudah lebih paham dan sudah mampu mengamalkannya dengan baik. Lalu bagaimana dengan aku? Sepertinya aku tak jauh berbeda dengan mereka, hanya saja aku tahu lebih dulu dari mereka, maka jadi kewajibanku untuk menyampaikan kepada mereka. 
Hmm…begini ya rasanya jadi mentor.. Ternyata ada tanggungjawab tersendiri, khususnya pada diri sendiri. Mungkin seharusnya tahu lebih dulu itu berarti mengerjakan dan mengamalkannya lebih dulu juga. Tapi bagaimanapun, pembelajaran memang membutuhkan proses.
Ya Allah….ampuni hamba. Semoga amanah menjadi pementor ini bisa menjadi jalan bagi hamba untuk selalu memperbaiki diri.. Aamiin..
 

Tuesday, November 9

Ngementor Perdana!!

15 Agustus 2010...
Dibina sambil membina. Itu yang aku alami saat ini. Hari ini pertama kalinya aku ngementor adik-adik 2010. Awalnya agak ragu. Ngerasa belum siap buat jadi mentor. Takut ga bisa menghadapi adik-adik yang ngga antusias, terlalu diem, atau mungkin hiperaktif.. -.-'
Tapi alhamdulillah, untuk kelas amatiran, pemula sepertiku semuanya terbilang lancar.
"Syukur" adalah materi perdana yang disampaikan tadi. Sejatinya akulah yang harus belajar lebih tentang syukur. Terutama hari ini. Hari dimana aku masih diberikan kesempatan memegang amanah pertamaku sebagai mentor. Bagiku, ini berarti aku masih diberi kesempatan untuk terus belajar dan memperbaiki diri..
Ya Allah, semoga bisa jadi mentor yang baik dan amanah..aamiin..

Saturday, November 6

Be Safe, Be Beautiful..

Akhwat, tahukah engkau? Wanita itu sangatlah mulia bak intan berlian. Apabila diatur dengan baik maka akan terlihat indah. Namun bila tidak diatur dengan baik maka akan kelihatan jelek. Dalam hal ini, Islam telah mengajarkan bagaimana seharusnya seorang muslimah itu berpenampilan. Seperti yang difirmankan-Nya di Q.S Al-Ahzab : 59:

“ Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”.

Jilbab yang dimaksud disini adalah baju yang lapang, yang dapat menutupi kepala dan dada.

Lalu kenapa sih kita harus pakai jilbab?

Pertama, karena jilbab merupakan tanda ketaatan seorang muslimah kepada Allah dan Rosul-Nya. Dalam kitab-Nya, Allah telah memerintahkan para wanita untuk menggunakan jilbab:

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.” (QS. An Nuur: 31)

Kedua, karena jilbab itu iffah (menjaga diri)
Allah menjadikan kewajiban menggunakan jilbab sebagai bentuk penjagaan diri kita dari maksiat. Allah menyuruh kita menutupi tubuh kita untuk menghindarkan dan menahan diri kita dari perbuatan dosa. Ketika seorang muslimah memakai jilbabnya dengan benar, maka mereka tidak akan diganggu oleh orang-orang jahil lagi berpenyakit hati.

Ketiga, karena jilbab itu kesucian.
Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:
“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), Maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al Ahzab: 53).
Allah SWT menjadikan jilbab sebagai kesucian bagi hati orang-orang mukmin baik laki-laki maupun perempuan. Nafsu timbul jika mata melihat. Keindahan tubuh wanita dapat menjadi fitnah (godaan) bagi para lelaki. Maka dari itu, jilbab hadir sebagai pelindung yang dapat mengancurkan keinginan orang-orang yang memiliki penyakit hati.

Keempat, jilbab adalah ketaqwaan.
Allah berfirman:
”Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. dan pakaian takwa Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raf: 26).

Kelima, jilbab menunjukkan keimanan.
Allah SWT tidaklah berfirman tentang jilbab kecuali bagi wanita-wanita yang beriman. Dalam ayat-ayat Nya Allah menyeru kepada wanita beriman untuk memakai jilbab yang menutupi tubuhnya. Ketika seorang wanita yang benar imannya mendengar ayat ini maka tentu ia akan melaksanakan perintah Tuhannya dengan senang hati. Lalu bagaimanakah iman seorang wanita yang mengetahui perintah Tuhannya namun tidak melaksanakannya, atau bahkan melanggarnya?

Keenam, jilbab adalah rasa malu.
Rosulullah SAW bersabda:

“Jika kalian tidak malu maka lakukanlah perbuatan sesuka kalian.” (HR. Bukhari)

Wanita yang membuka auratnya tidak disangsikan lagi bahwa tidak ada rasa malu darinya, ia menampilkan perhiasan yang tidak selayaknya dibuka, ia memamerkan barang berharganya yang hanya layak untuk ia berikan kepada suaminya, ia telah membuka sesuatu yang Allah perintahkan untuk menutupnya.
Akhwat, segala yang diperintahkan Allah kepada kita semua adalah demi keuntungan diri kita sendiri. Kalau kita tau manfaat setiap perintah, kita akan semakin sadar betapa sayangnya Allah kepada kita. Termasuk berjilbab.

So, what are you waiting for? Be safe, be beautiful with jilbab…. !
Wallahu ‘alam bishshawab… 

Wednesday, August 25

Tak Mesti Sempurna


Memiliki sesosok idola atau tokoh panutan merupakan hal yang lumrah bagi setiap orang. Apalagi idola yang nyaris sempurna. Panutan atau idola itu tentu seharusnya bisa menjadi motivasi dan inspirasi bagi diri kita. Tapi apa jadinya jika sosok yang menginspirasi kita  itu bukan hanya satu atau dua orang? Apakah akan membuat kita lebih termotivasi dan terinspirasi lagi? Sepertinya ini belum berlaku bagi seseorang yang (ternyata) belum menemukan jati diri seutuhnya.
"Wha..si teteh ini keren banget…si akang ini juga…si ini juga ternyata…eh..si itu juga lho…ini..itu..ini…itu…keren semua.."
Itu kata-kata yang mungkin sering terlontar, yang pada akhirnya membuat seseorang merasa bukan siapa-siapa, dan tidak memiliki apa-apa. Terlalu banyak sosok? Terlalu sering berjumpa dengan mereka-mereka yang hebat itu? Atau terlalu menganggap diri mereka hebat dan meng-underestimate-kan diri sendiri?
Entahlah, tapi mungkin option terakhir yang benar. Lalu pertanyaannya sekarang, MENGAPA HARUS JADI ORANG LAIN? MENGAPA TIDAK BANGGA JADI DIRI SENDIRI? Karena tidak ada yang bisa dibanggakan? Aah..tapi itu pernyataan yang terlalu jahat! Dimana apresiasi terhadap diri sendiri? Dimana rasa respect terhadap diri? Padahal itu adalah hal pokok yang harus kita punya sebelum kita menghargai dan menghormati orang lain. .
Apresiasi diri itu mahal, sangat mahal. Dan sayangnya, titik pokok tercapainya kesuksesan ini mungkin belum dimiliki oleh semua orang. Seringkali sulit percaya terhadap diri sendiri. Terlalu was-was dengan keadaan sekitar, terutama dengan pandangan orang lain terhadap kita ketika kita melakukan sebuah kesalahan, sekalipun hanya sebuah kesalahan kecil.
LALU KENAPA HARUS MENGHIRAUKAN ORANG LAIN? Toh mereka dan kita juga sama-sama sedang belajar. Ini kampus guys..! Kalau mengingat kata-kata kakak kelas saya, dia bilang, "Sungguh, kamu boleh melakukan kesalahan. Ingat, kampus ini adalah laboratorium kehidupan."  Yap, laboratorium kehidupan!  Dimana sangat mungkin sekali terdapat kesalahan dan kesalahan itu tentu bukan untuk diulangi, tapi untuk diperbaiki.
Manusia punya sisi negatif dan positif. Manusia bisa melakukan kesalahan dan kebenaran, bukan superman, batman, wonder woman atau sebangsa superhero lainnya yang selalu perfect..
Jadi, TAK MESTI SEMPURNA 'kan?? ^^

Aku Ingin Bisa Menulis!

Aku ingin bisa menulis!
Menulislah, menulislah, menulislah!
Apa yang mesti ditulis? Aku ngga punya ide!
Tulislah bahwa kamu ngga punya ide! Menulislah!
Mau nulis apa? Bingung nih!
Tulislah kebingunganmu itu! Menulislah!
Iiih...koq maksa sih?? Aku kan ngga bisa!
Tulisalah bahwa kamu ngga suka dipaksa dan juga ngga bisa menulis!
OK, AKU AKAN MENULIS!

*motivasi menulis, taken from MaPi